Kafe Juwe Besok, Wartawan Senior Hermansyah, Oyos, Budi Hutasuhut Kupas Wajah Jurnalisme Lampung Hari Ini (1)


SEJUMLAH kartu pers dan alat kerja jurnalistik dikumpulkan sebagai bentuk kekecewaan atas penganiayaan wartawan di Medan. Foto diambil Selasa, 16/8/2016. | Rizky Adi Prasurya/duajurai.com

WAJAH jurnalisme berubah. Biang keladinya adalah internet, juga teknologi informasi secara umum yang bergerak demikian gesit. Ia bahkan jauh lebih lesat bergerak ketimbang profesionalisme mayoritas perusahaan pers, manajemen, karyawan, dan apalagi para wartawannya.

Hari ini, wartawan/media massa tidak lagi kuasa menepuk dada sebagai penguasa tunggal informasi. Orang awam sekalipun, siapa pun dia, bisa tetiba menjadi “pewarta”. Informasi soal padam listik, banjir, orang hilang, macet, kecelakaan lalu lintas, pohon tumbang, polisi pungli, atau PNS keluyuran di mal saat jam kerja, bisa segera menyebar ke seantero jagad hanya karena ada warga yang buat status plus upload foto di Facebook.

Dibukanya kafe baru, tempat makan enak, adanya lokasi nongkrong asyik, atau objek wisata indah memesona, bisa langsung menyebar ihwalnya setelah satu dua orang unggah foto-foto hasil jepretan kamera ponsel di Instagram.

Tukang jamu cantik, pelayan SPBU ayu, satpam ganteng, atau bahkan hal lebih remeh temeh lain seperti jomblo keren patah hati, bisa segera jadi santapan publik, lagi-lagi karena ada warga yang mempostingnya di media sosial.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika juga Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai sekira 100 juta orang. Ini nyaris setengah populasi penduduk Nusantara. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial di mana Facebook masih digjaya di antara berbagai platform media sosial lainnya.

Ponsel seharga ratusan ribu rupiah (dengan fitur internet dan medsos) semakin banyak diproduksi, meski yang harga jutaan juga tak kalah banyak. Akses internet semakin murah. Nelpon dan SMS murah bukan lagi dagangan utama provider. Paket data murah meriah dan cepat kini jadi produk andalan.

Karena informasi semakin cepat, mudah disebarkan, gampang diakses, dan tak berjarak, sehingga semua orang bisa jadi jurnalis dadakan, banyak wartawan betulan menjadi “galau”. Baru mau meliput, kabar banjir di Telukbetung sudah menyebar via medsos. Baru mau mengetik berita, foto bus Damri terbakar sudah meruyak via BBM atau WhatsApp.

Bahkan saat mau curhat ihwal kalah ligat dengan warga pun, sudah keburu dikongek kerabat sendiri, “Wartawan kok kalah sama ibu-ibu arisan. Kasian deh lu!” (bersambung)

Juwendra Asdiansyah | wartawan duajurai.co


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *