Angkat Falsafah Lampung Piil Pesenggiri, Film”Kiyai” Segera Tayang


KETUA Parfi Lampung Hermansyah GA | penala budaya

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sineas Lampung terus berkarya. Dalam waktu dekat, flm “Kiyai” yang mengangkat kearifal lokal Lampung siap ditayangkan. Film produksi Sanggar PAI Bandar Lampung ini akan diluncurkan dalam program bioskop masuk sekolah.

Ketua PARFI Lampung Hermansyah GA dalam rilisnya kepada duajurai.co, Rabu, 3/5/2017, mengulas, film yang diproduseri Ricky Ramli ini mengangkat salah satu pilar falsafah orang Lampung yakni piil pesenggiri. Cerita Kiyai menitikberatkan kepada aspek tanggung jawab dan kegotongroyongan atau saling membantu dalam sebuah keluarga.

Kiyai awalnya bekisah tentang seorang ayah yang begitu gigih mencari nafkah dengan mendorong gerobak air bersih untuk membiayai dua anak lelakinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Suatu ketika sang ayah sakit sehingga si sulung mengalah. Ia tidak melanjutkan sekolah lalu berjualan di sekitah lingkungan sekolah.

“Setiap hari si sulung berjualan dan hasilnya untuk mengobati dan memberi makan sang ayah dan membiayai sekolah adiknya,” tutur Hermansyah.

Suatu ketika seorang kepala sekolah menjumpai sulung yang sedang berjualan. Ia bertanya kenapa tidak melanjutkan sekolah. Demi mendapat jawaban bahwa biaya menjadi kendala, si kepala sekolah menjadi iba dan meminta si sulung untuk melanjutkan sekolah hingga meraih prestasi.

“Film yang disutradarai Damsi Tarmizi ini menarik bukan hanya karena berlatar belakang sosial masyarakat Lampung, namun juga keterkaitan bahasa dan kehidupan realitas yang melandasi falsafah piil pesenggiri, juga nengah nyappur,” beber Herman.

Unsur cerita dan angle-angle pengambilan gambar menurut Herman sangat menarik, meskipun beberapa ilustrasi musik masih terlalu dominan. Kaidah sebuah film juga cukup mengagumkan, meski kedalaman dramaturgi belum maksimal.

“Detail ketokohan dan ketajaman alur cerita terasa mengambang. Beberapa hal perlu perlakuan secara integral, agar cerita yang dibangun memiliki makna kelokalan,” ulasnya.

Kiyai, kata Herman, dalam prespektif film local genius telah mewakili kreativitas tak terbatas dalam sebuah inovasi audio visual.  Metode penyampaian dialektika yang minimalis membuat gairah penerjemahan secara verbal. Padahal, film tidaklah harus secara verbal menyampaikan asumsi-asumsi kebahasaan Lampung secara makro.

“Yang terpenting bagi para sineas Lampung, film ini telah menggiring secara sosial adanya gairah perfilman daerah, terutama PAI sebagai penyaji,” tutupnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Hotel Pertama di Lampung, Radisson Luncurkan Paket Menu Afternoon Tea

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Hotel Radisson Lampung meluncurkan paket menu afternoon tea. Radisson merupakan hotel pertama di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *