ADVERTORIAL: Ingin Lampung Tengah Jadi Bumi Agrobisnis, Mustafa: Saya akan Memulainya dari Desa


BUPATI Lampung Tengah Mustafa (pegang sabit) menghadiri panen raya padi di Kecamatan Seputih Mataram, beberapa waktu lalu. | Humas Lampung Tengah

LAMPUNG TENGAH, duajurai.co – Jika petani sejahtera maka daerah akan lebih maju dan ekonomi tertata dengan baik. Petani bukan untuk dijadikan alat, tetapi harus dijadikan pelopor kemajuan daerah.

Demikian dikatakan Bupati Lampung Tengah Mustafa soal upayanya memberdayakan petani di wilayah tersebut. Ia menyatakan, pembangunan dimulai dari tingkat desa. Karenanya, agar ada kesinambungan dan mewujudkan kemajuan daerah, pemerintah wajib memperhatikan kesejahteraan masyarakat di tingkat bawah.

“Saya akan bawa Lampung Tengah sebagai bumi agrobisnis yang maju, aman, sejahtera, dan berwawasan lingkungan, dengan pelayanan publik yang berkualitas prima. Untuk pengembangannya harus dimulai dari tingkat desa,” ujar Mustafa yang juga Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lampung Tengah ini, Jumat, 28/4/2017.

Untuk mendorong petani lebih maju dan bermartabat, orang nomor satu di Lampung Tengah tersebut menjelaskan, salah satu upaya yang ditempuh adalah mengembangkan Gapoktan tingkat desa dan kecamatan.

“Desa merupakan sumber kehidupan masyarakat yang didominasi sektor pertanian. Keberhasilan sektor tersebut akan mengangkat percepatan peningkatan ekonomi masyarakat di pedesaan dan berdampak mendorong sektor lain. Sebab, lembaga tersebut memiliki anggota yang tergabung dalam beberapa kelompok tani di setiap kampung,” lanjutnya.

Menurut Mustafa, pengembangan kelembagaan merupakan salah satu komponen pokok pembangunan pertanian dan pedesaan. Namun, selama ini kelembagaan petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek. Belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar.

“Ke depan, kelembagaan petani dapat berperan sebagai aset komunitas masyarakat desa yang partisipatif. Pengembangan kelembagaan harus dirancang sebagai upaya untuk peningkatan kapasitas masyarakat itu sendiri sehingga menjadi mandiri,” katanya.

Lemahnya kelembagaan pertanian, seperti perkreditan, lembaga input, pemasaran, dan penyuluhan, telah mengakibatkan belum terciptanya suasana kondusif untuk pengembangan agroindustri pedesaan. Akibat lanjutan, sistem pertanian menjadi tidak efisien dan keuntungan yang diterima petani relatif rendah. Biaya produksi yang harus ditanggung para petani cukup tinggi, sebaliknya harga jual hasil panen justru rendah.

Keprihatinan itu masih ditambah dengan kendala fungsional. Pendekatan strategi revitalisasi pertanian selama ini terkesan sektoral. Padahal, jika tujuan utama revitalisasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani, peningkatan produksi, dan produktivitas komoditas haruslah dilakukan secara menyeluruh.

Pencapaian yang harus segara dilakukan, menurut Mustafa adalah meringankan beban petani terutama masalah pupuk dan harga jual. “Pemimpin harus bisa mencarikan solusi untuk masalah pupuk dan harga jual. Saya akan mendobrak harga di pasaran dan menghentikan tengkulak yang mempermainkan harga hasil pertanian,” tegasnya.

Kabupaten Lampung Tengah memiliki potensi yang cukup besar bagi upaya pengembangan sektor pertanian. Untuk tanaman pangan ketersediaan lahan basah mencapai 69.942 hektare dan lahan kering 382.993,59 hektare.

Komoditas unggulan tanaman pangan meliputi padi, jagung, kedelai dan ubi kayu. Pada 2008 luas panen padi (sawah dan ladang) mencapai 112 ribu hektare dengan produksi mencapai 591.160 ton. Sementara jagung mencapai 535.361 ton, kedelai 1.414 ton, dan ubi kayu 2.768.269 ton.(*/adv0417)


Komentar

Komentar

Check Also

Alasan Gaspool Demo Grab-DPRD Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Ratusan driver yang mengatasnamakan Gabungan Admin Selter Pengemudi Ojek Online (Gaspool) berunjuk rasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *