Tokoh Adat: Jika Warganya Jahat Semua, Kenapa Jabung Tidak Dibom Saja Sekalian!


SEJUMLAH warga dan tokoh masyarakat Jabung, memberi keterangan kepada wartawan dalam konferensi pers di kantor LBH Bandar Lampung, Selasa, 18/4/2017 | rudi sabli/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co  Masyarakat Jabung, Kabupaten Lampung Timur, keberatan wilayahnya disebut sebagai sarang begal seperti stigma yang selama ini melekat. Dalam konferensi pers di kantor LBH Bandar Lampung, Selasa, 18/4/2017, Sukuriya Kesuma, tokoh adat Jabung mengatakan, masih banyak orang baik di wilayah tersebut.

“Banyak polisi yang beranggapan kami warga Jabung adalah warga yang jahat. Di Jabung masih banyak haji. Kalau memang kami ini warga Jabung jahat semua, kenapa Jabung tidak dibom saja sekalian,” tandasnya dengan nada kesal.

Konferensi pers digelar terkait hasil investigasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung atas kematian lima remaja Jabung akibat ditembak aparat Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandar Lampung. Kelimanya ditembak mati Tim Ranger Tekab 308 Polresta Bandar Lampung pada Sabtu dini hari, 1/4/2017, karena dituduh sebagai begal.

Baca 5 Warganya Ditembak Polisi, Tokoh Jabung Lampung Timur: Mereka Anak-Anak Baik, Bukan Residivis

Tokoh pemuda Jabung, Zainal Abidin mengatakan, penembakan hingga mati terhadap kelima warganya yang masih di bawah umur membuat masyarakat Jabung sangat terpukul. Para pemuda Jabung juga menyayangkan pemberitaan di media massa serta pernyataan kepolisian soal status “begal” yang kemudian merenggut nyawa lima warganya.

“Saya berharap media massa bisa memberitakan hal-hal baik yang ada di Jabung, termasuk prestasi-prestasinya. Bukan hanya dari segi kejahatan yang selama menjadi stigma negatif di mata masyarakat Lampung,” tutur Zainal.

Ibrahim, Ketua Komite SMA Negeri 1 Jabung, tidak menerima atas meninggalnya lima remaja yang empat di antaranya merupakan siswa sekolah tersebut. Pasalnya, mereka selama ini berperilaku baik.

“Kami tidak pernah melihat mereka bermasalah di sekolah atau bermasalah hukum di kepolisian. Tetapi mengapa polisi malah mengatakan mereka residivis dan DPO kepolisian. Bukannya dalam kepolisian ada lidik, sidik baru bisa dibilang DPO. Ini kan tidak ada sebelumnya,” sesalnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

PN Tanjungkarang Raih Penghargaan Pelayanan Publik Terbaik se-Indonesia

JAKARTA, duajurai.co – Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang meraih penghargaan Pelayanan Publik Terbaik dari Kementerian Pendayagunaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *