Peneliti Dukung Rencana Penyederhanaan Sistem Cukai Rokok


ILUSTRASI cukai rokok | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kementerian Keuangan berencana menyederhanakan sistem cukai rokok menjadi 9 layer dari 12 layer yang ada saat ini. Hal ini dikatakan Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Goro Ekanto.

Senada dengan Goro, Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi mengatakan, pengurangan layer tarif cukai akan dilakukan secara bertahap. Heru menyebutkan bakal tersisa 8 atau 9 layer pada 2018. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menyatakan bahwa berbagai macam peraturan yang rumit akan menimbulkan komplikasi dari sisi kepatuhan sehingga perlu disederhanakan.

Terkait hal ini, Peneliti Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia (UI) menyatakan apresiasinya. “Penyederhanaan sistem cukai akan meningkatkan efektivitas kebijakan cukai dalam pengendalian konsumsi rokok juga dalam peningkatan penerimaan negara,” kata Abdillah dalam rilis yang diterima duajurai.co, Kamis,13/4/2017.

Sistem cukai saat ini menghasilkan harga rokok yang sangat lebar rentangnya. Akibatnya, peningkatan cukai dan harga rokok yang bertujuan mengendalikan konsumsi sesuai marwah kebijakan cukai, malah mengalami hambatan.

Saat ini harga rokok termurah adalah Rp 400 per batang atau Rp 4.800 per bungkus. Sedangkan harga rokok di kelompok tertinggi sekitar Rp1.215 per batang atau Rp 14.580 per bungkus atau lebih dua kali lipat dari rokok termurah. Hal ini membuat rokok masih terjangkau oleh masyarakat, bahkan untuk mereka yang termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, remaja, dan orang miskin.

Abdillah menyatakan, Lembaga Demografi FEB UI telah menyusun peta jalan reformasi kebijakan cukai hasil tembakau dan telah diserahkan kepada Kementerian Keuangan sebagai masukan dalam pembuatan kebijakan. Peta jalan ini merekomendasikan agar pemerintah menyederhanakan sistem cukai rokok dari 12 batasan tarif menjadi 2 batasan tarif dalam waktu lima tahun.

Tahapannya dari 12 pada 2016 berkurang menjadi menjadi 9, 5,4,3, dan terakhir 2, berturut-turut dari 2017 sampai 2021. Tahapan awal penyederhanaan ditujukan terutama kepada industri rokok besar yang mendominasi pasar rokok di Indonesia.

Sementara untuk industri rokok kretek tangan skala menengah dan kecil akan dilakukan penggabungan cukai pada tahun ke lima (terakhir). Dengan demikian pemerintah dan industri rokok kretek tangan menengah dan kecil memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri.

Berdasarkan peraturan Menteri Keuangan tentang tarif cukai rokok tahun 2017, terlihat bahwa tidak ada pengurangan jumlah batasan tarif. Dengan kata lain, jumlah batasan tarif (layer) tetap 12 seperti kondisi pada 2016.

Hal ini, kata Abdillah, sangat disayangkan. Pasalnya, jika mengikuti peta jalan yang diusulkan, maka pada 2017 seharusnya terjadi pengurangan layer dari 12 menjadi 9. Skemanya adalah penggabungan rokok mesin yaitu sigaret kretek mesin (SKM) 3 layer dan sigaret putih mesin (SPM) 3 layer menjadi hanya 3 layer untuk keduanya.

Abdillah mengestimasi, jika penggabungan ini dilakukan pada 2017 maka pemerintah berpotensi mendapatkan tambahan penerimaan negara dari cukai tembakau sebesar Rp2,3 Trilliun dengan mengasumsikan tarif cukai SPM sama dengan SKM.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Harga Telur di Bandar Lampung Tembus Rp24 Ribu

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Harga telur ayam merangkak naik menjelang tahun baru. Kini, harganya di pasaran tembus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *