Selamatkan Pasien Gawat Darurat, Rumah Sakit Lampung Jangan Minta Uang Muka


Ridho Ginting (paling kanan) dan Remon Orlando (kemeja putih) foto bersama Asisten ombudsman Lampung, Tegar dan Alvero, kemarin. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Rumah sakit di Lampung diminta tidak mengenakan uang muka dalam menyelamatkan pasien yang gawat darurat. Sebab, hal itu telah diatur dalam Pasal 32 ayat (2) UU 36/2009 tentang Kesehatan, yakni dalam keadaan darurat, pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak posien dan/atau meminta uang muka.

“Kami tidak ingin ada rumah sakit yang masih meminta uang muka saat melakukan tindakan penyelamatan pasien. Padahal, pasien dalam kondisi darurat. Sebab, tidak semua keluarga pasien dalam kondisi memiliki uang,” kata Ridho Ginting (21), mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila), saat mendatangi Kantor duajurai.co, Bandar Lampung, kemarin.

Dia mengatakan, kasus itu pernah menimpa seorang pasien gawat darurat bernama Wahyu Pratama. Wahyu mengalami pendarahan di otak setelah ditabrak sepeda motor saat menyeberang dekat lampu lalu lintas Unila, Minggu lalu, 2 April 2017. Dia kemudian dibawa ke salah satu rumah sakit di Bandar Lampung, dan mesti menjalani operasi.

“Berdasar informasi yang saya terima, seharusnya operasi dilaksanakan pada Senin, 3 April, pukul 15.00 WIB. Karena pihak rumah sakit meminta uang muka biaya operasi, dan keluarga belum bisa memenuhi, maka operasinya ditunda sampai jam 10 malam. Besaran uang muka yang diminta sekitar Rp15 juta,” ujar Ridho didampingi Remon Orlando (23), rekannya.

Menurutnya, tindakan rumah sakit itu melanggar UU Kesehatan. Mereka mengabaikan keselamatan pasien dan menekankan biaya operasi harus dibayar di muka. “Terlebih, informasi dari pihak keluarga, dokternya yang meminta pihak keluarga menyelesaikan administrasi terlebih dahulu sebelum operasi,” kata dia.

Akhirnya, lanjut Ridho, sejumlah aktivis menggalang donasi donasi untuk Wahyu melalui website Kitabisa.com. Kondisi Wahyu juga beredar di Facebook. Tiba-tiba, pihak rumah sakit langsung mengambil tindakan operasi meski uang muka belum mencukupi. “Pihak keluarga juga sudah tidak mau memberikan keterangan lebih banyak ketika Wahyu sudah dioperasi. Padahal, saya berniat memberikan pendampingan,” ujarnya.

Sebelum ke Kantor duajurai.co, Ridho dan Remon juga mendatangi Kantor Ombudsman RI Perwakilan Lampung. Kedatangan mereka ke lembaga pemantau pelayanan publik untuk berkonsultasi.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Nanang Ermanto: Estimasi Anggaran Pendapatan Daerah Lamsel 2020 Rp 2,3 Triliun

KALIANDA, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto menyampaikan nota keuangan Rancangan …

Satu komentar

  1. Good job buat adek kk… Suka baca artikelnya. Luar biasa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *