Dosen, Wartawan, Seniman, Budayawan Lampung “Tumplek” Nonton Film “Sinjang Tapis”


KRU dan penonton film Sinjang Tapis berfoto bersama seusai penayangan perdana di Perpustakaan Daerah Lampung, Kamis, 30/3/2017 | Facebook Hendry Gie Pratama

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pemutaran perdana film pendek “Sinjang Tapis” di Perpustakaan Daerah Lampung, Bandar Lampung, Kamis, 30/3/2017, disambut antusias khalayak pecinta dan pelaku perfilman di Lampung. Lebih seratus orang mendatangi ruang audio visual (bioskop mini) tempat film berdurasi 20 menit tersebut ditayangkan.

Rumah Seni Lampung sebagai rumah produksi sekaligus penaja acara nonton tersebut sampai membuka dua sesi penayangan yang dimulai pukul 14 WIB. Di antara penonton tampak beberapa wartawan senior seperti Bambang Eka Wijaya, Oyos Saroso HN, Pemimpin Redaksi Lampung Post Iskandar Zulkarnain, dan Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah.

Kemudian, mantan Kepala Dinas Pariwisata Lampung Masri Yahya, pecinta seni Lampung sekaligus dosen Universitas Lampung Admi Syarif, dan politikus NasDem Muhammad Yunus.

Tampak pula sejumlah pekerja seni dan budayawan seperti Connie Sema, Bagus Pribadi, Muhammad “Bob” Thontowi, sutradara Aji Aditya Jr, promotor seni Daniel H Ghanie, serta penggiat Komunitas Dongeng Dakocan Ivan S Bonang, Iin Mutmainah, dan M Reza. Masih ditambah kru film Sinjang Tapis antara lain sutradara Dede Safara Wijaya, penulis cerita dan skenario M Arman AZ, produser Ulunk M Rusdi, juga Mastoh, pemeran sosok Mak Nur dalam film.

Sinjang Tapis merupakan film pendek berdurasi 20 menit. Film ini berkisah tentang upaya merawat Tapis sebagai tradisi dan kekayaan budaya Lampung yang mulai tergerus oleh geliat kemajuan zaman dan kerasnya realitas kehidupan. Film ini berpusat pada tokoh sentral Mak Nur, wanita paruh baya, penenun tapis di Kelurahan Gedung Nyapah, Kecamatan Bumi Agung, Kabupaten Lampung Utara.

Nur yang sederhana, polos namun setia menjaga adat-tradisi, terus digoda seorang pedagang untuk menjual Tapis tua miliknya. Meski diimingi uang banyak, ditambah kebutuhan uang mendesak untuk anak gadisnya yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Nur bergeming.

“Cari di tempat lain saja. Lagipula, Tapis (tua) milik saya cuma dua,” ujar Mak Nur kepada si pedagang yang bakal menjual kembali Tapis yang diperoleh kepada kolektor.

Namun, pertahanan Nur akhirnya bobol. Rasa sayang dan iba terhadap sang anak membuatnya terpaksa merelakan koleksi Tapisnya yang sudah berusia puluhan tahun berpindah tangan.

Film ini diangkat dari kisah nyata Mastoh, pemeran Mak Nur. Sehari-hari ia memang hidup sebagai penenun kain Tapis. Memiliki kemampuan yang “diwarisinya” dari sang ibu, sudah puluhan tahun Nur melakoni aktivitas tersebut.

Penayangan film Sinjang Tapis ini sekaligus merayakan Hari Film Nasional yang tepat jatuh 30 Maret 2017. “Semoga lewat film sinjang Tapis kreativitas para sineas di Lampung yang hendak mengangkat konten lokal Lampung mendapat apresiasi dan dukungan riil dari pemerintah dan pihak-pihak berkompeten lainnya. Maju terus perfilman di Lampung,” kata Dede Safara Wijaya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Unik, Alasan Sejumlah Warga Kunjungi Bukit Sakura Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bukit Sakura di Jalan Raden Imba Kesuma Ratu, Kemiling, Bandar Lampung, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *