Brigadir Medi Dituntut Hukuman Mati, Sidang Kasus Mutilasi Pansor Gaduh


PENGADILAN Negeri Tanjungkarang menggelar sidang kasus mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung M Pansor dengan agenda tuntutan, Rabu, 29/3/2017. Dalam sidang tersebut, jaksa menuntut Brigadir Medi Andika (kemeja putih) dengan hukuman mati. | Rudi Sabli/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sidang kasus mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung M Pansor di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Bandar Lampung, diwarnai kegaduhan, Rabu, 29/3/2017. Kegaduhan timbul saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Priambodo menuntut anggota Polresta Bandar Lampung Brigadir Medi Andika, terdakwa pembunuhan Pansor, hukuman mati.

Pantauan duajurai.co, ketika Agus menyampaikan tuntutan hukuman mati, keluarga korban spontan mengucapkan ‘Alhamdullilah’. Pihak keluarga korban tampak marah dan mengucapkan kekesalan terhadap Medi. Tak hanya itu, keluarga korban pun terlihat menangis sambil berpelukan.

Setelah Agus membacakan tuntutan, hakim ketua langsung bertanya kepada kuasa hukum Medi serta terdakwa untuk melakukan pembelaan atas semua tuntutan. Sidang dilanjutkan pada Rabu pekan depan, 5 April 2017 mendatang.

Pansor ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di kawasan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, pada 19 April 2016. Sewaktu ditemukan, tubuh politikus PDI Perjuangan itu sudah tak utuh. Hanya kepala, kedua kaki, dan tangan.

Dalam perkembangannya, Polda Lampung menetapkan dua tersangka pembunuhan Pansor, yakni Medi dan Tarmidi alias Dede. Medi merupakan anggota Polresta Bandar Lampung. Sedangkan Tarmidi diketahui bekerja di salah satu kedai makan di bilangan Way Halim.(*)

Laporan Rudi Sabli


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top