Diskusi di Kafe Juwe, Andi Surya: Cuma Bawa Masalah, KA Babaranjang Harus Enyah dari Bandar Lampung


(Dari kiri) ANGGOTA DPD RI asal Lampung Dr Andi Surya, Pemred duajurai.co Juwendra Asdiansyah dan dosen FT Unila Dr Alexander Purba berfoto bersama seuasi talkshow Kafe Juwe di Radio Andalas, Jumat pagi, 10/3/2017 | rudi hartono/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Lampung Dr Andi Surya menilai keberadaan kereta api batu bara rangkaian panjang (KA Babaranjang) nyaris tidak memberikan manfaat apa pun bagi Kota Bandar Lampung yang setiap hari dilintasinya. Sebaliknya, begitu banyak dampak buruk yang ditimbulkan kereta pengangkut batu bara milik PT Bukit Asam (BA) tersebut.

“Itu sebabnya, kita perlu mengupayakan berbagai cara agar KA Babaranjang tidak lagi masuk dan melintasi wilayah Kota Bandar Lampung,” tandas Andi Surya dalam talkshow “Kafe Juwe” di Radio Andalas, 102,7 FM, Jumat pagi, 10/3/2017.

“Bayangkan saja, Babaranjang itu melintas setiap 15 menit. Sekali lewat bisa sampai 60 gerbong,” terusnya dalam acara yang dipandu Juwendra Asdiansyah, Pemimpin Redaksi duajurai.co.

Andi memerinci, dampak buruk keberadaan Babaranjang antara lain kemacetan lalu lintas, waktu yang terbuang percuma akibat macet, bahan bakar yang menjadi boros, stress, ancaman kecelakaan, dan lain sebagainya.

“Kalau terbalik di luar kota atau pedalaman masih mending. Kalau terguling di tengah kota Bandar Lampung tentu bakal banyak orang yang menjadi korban,” katanya prihatin.

Di lain sisi, keuntungan yang didapat warga Bandar Lampung dari KA Babaranjang nyaris tidak ada. “Batu baranya diangkut dari Sumatera Selatan, punya Sumatera Selatan. Lalu dibawa ke PT BA di Tarahan, Panjang (Bandar Lampung) untuk kemudian dibawa lewat laut ke Jawa. Sekitar 70-80 persen diekspor. Hanya 20-30 persen sisanya yang dipakai untuk pembangkit listrik di Indonesia. Jadi di Lampung ini, khususnya Bandar Lampung, (Babaranjang) cuma numpang lewat saja, warga tidak mendapat manfaatnya,” bebernya.

Andi melanjutkan, kalaupun ada manfaat adalah pajak yang masuk ke pemerintah pusat via APBN. Dari APBN baru kemudian dibagi-bagi ke berbagai daerah. “Tentu ada yang masuk ke Lampung. Besarannya tidak jelas karena memang tidak diketahui rinciannya. Tapi saya kira juga tidak besar,” tegas Ketua Yayasan Universitas Mitra Lampung ini.

Selain Andi Surya, Kafe Juwe episode 9 hari ini juga menghadirkan Dr Alexander Purba, ahli transportasi dan perencanaan perkotaan dari Fakultas Teknik Universitas Lampung. Kafe Juwe yang berlangsung sepeka sekali setiap Jumat pagi merupakan kerjasama Radio Andalas dan duajurai.co.(*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top