Kafe Juwe Bahas Sastra Lampung, Juperta: 50 Tahun Lagi Bahasa Lampung Hilang


Dari kiri ke kanan: Pemred duajurai.co Juwendra Asdiansyah, penyair Juperta Panji Utama, dan sastrawan Udo Z Karzi foto bersama usai program Kafe Juwe di Studio Radio Andalas, Bandar Lampung, Jumat, 3/3/2017. | Rudi Sabli/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pemerintah Daerah (Pemda) di Lampung perlu segera mengambil langkah untuk melestarikan bahasa daerah setempat. Bila tidak, maka tinggal menunggu waktu saja Bahasa Lampung akan musnah.

Hal tersebut disampaikan penyair Juperta Panji Utama saat menjadi narasumber Kafe Juwe di Studio Radio Andalas 102,7 FM, Jumat, 3/3/2017. Program talkshow yang dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) duajurai.co Juwendra Asdiansyah itu mengusung tema ‘Potret Kesastraan Lampung’.

“Bahasa Lampung sudah tidak dilestarikan warga Lampung yang seharusnya memakai Bahasa Lampung. Sebuah penelitian menyebutkan, 50 tahun lagi Bahasa Lampung akan hilang,” kata Juperta.

Dia mengatakan, gubernur perlu mengumpulkan semua elemen yang berkaitan dengan pelestarian Bahasa Lampung. Sehingga, bahasa dan satra Lampung dapat terus lestari dan terhindar dari kematian. “Apabila perkembangannya terus seperti ini, maka tinggal tunggu waktunya saja Bahasa Lampung akan hilang,” ujarnya.

Hal senada disampaikan sastrawan Lampung Zulkarnain Zubairi alias Udo Z Karzi yang juga jadi narasumber Kafe Juwe. Dia meminta gubernur mesti mengintervensi segala hal yang berkaitan dengan Bahasa Lampung. “Sekolah dan media harus membantu memaksa agar masyarakat lebih terbiasa dalam penggunaan bahasa dan sastra Lampung supaya tidak mati ke depannya,” ujar pria yang meraih Hadiah Satra Rancage itu.(*)

Baca juga Bahas Sastra Lampung, Kafe Juwe Hadirkan Udo Karzi-Juperta Panji

Laporan Rudi Sabli


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …

Satu komentar

  1. Jangankan 50 tahun… 20 tahun lagipun “WALLAHUALAM”. Sangat memprihatinkan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *