Diskusi KA Babaranjang Berlanjut di Facebook, Ini Komentar IB Ilham Malik


KA BABARANJANG berhenti di perlintasan Jalan HOS Cokroaminoto, Bandar Lampung, Jumat siang, 14/10/2016 | Imelda Astari/duajurai.com

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Keberadaan kereta api batu bara rangkaian panjang (KA Babaranjang) yang dinilai sebagai salah satu biang kemacetan di Kota Bandar Lampung, rupanya merupakan topik menarik untuk didiskusikan. Setelah diskusi yang diinisiasi anggota DPD RI asal Lampung Andi Surya  berlangsung pada Jumat, 17/2/2017, perbincangan soal KA Babaranjang berlanjut ke dunia maya.

Diskusi tak kalah hangat berlangsung di timeline facebook wartawan duajurai.co Juwendra Asdiansyah sejak Jumat sore. Sejumlah netizen urun pendapat, mengomentari tautan berita berjudul Diskusi Soal Babaranjang, Herman HN: Babaranjang Bikin Macet Bandar Lampung.

Tak kurang Wakil Wali Kota Bandar Lampung Yusuf Kohar, anggota DPD RI Andi Surya, pengusaha Ginta Wiryasenjaya, wartawan senior Heri Ch Burmelli, Hasanuddin Z Arifin, politikus PAN Helmi Fauzi, hingga pengusaha katering Shinta Desiana, terlibat “jual beli” komentar.

Baca Ini 4 Kesimpulan Pengusaha Ginta Wiryasenjaya soal KA Babaranjang di Lampung

Diskusi virtual ini semakin seru setelah pengamat transportasi Ida Bagus Ilham Malik ikut berkomentar. Ilham yang masih studi doktoral di Jepang, masuk “gelanggang” setelah “diundang” Heri Ch Burmelli.

Baca Babaranjang Bikin Macet Bandar Lampung, Andi Surya: Solusi Terbaik Relokasi

Berikut komentar IB Ilham Malik terkait keberadaan KA Babaranjang yang melintasi Kota Bandar Lampung.

RESPONS masyarakat terhadap kondisi buruk yang ditimbulkan oleh KA Babaranjang memang semakin menguat. Tetapi sepertinya intinya ialah:

  1. Bagaimana agar keberadaan bisnis PT KAI dan PT Bukit Asam (BA) tidak mengganggu kepentingan masyarakat urban, baik pada kesehatan, kelancaran lalu lintas yang terjamin, dan lain-lain.
  2. Bagaimana agar keberadaan bisnis mereka berdampak positif kepada ekonomi kota. Jadi kita punya tantangan untuk menjawab permasalahan dan harapan terkait dengan jalur KA yang melintasi area kota di Bandar Lampung.

PT KAI dan PT BA sudah pasti tidak akan memiliki mainset yang sama dengan Pemkot Bandar Lampung dan kita semua terkait kontribusinya kepada kesejahteraan warga. Ini karena memang mereka dibentuk bukan untuk warga kota, melainkan untuk menyuplai dana kepada negara. Kondisi ekonomi daerah dan kota tidak akan menjadi bagian dari tanggungjawab mereka. Dana CSR sekedar sebagai rutinitas.

Adapun untuk meminimalisasi dampak kepada kota, terkait dengan KA Babaranjang, PT BA akan menyerahkannya kepada PT KAI, dan selanjutnya PT KAI akan mnyerahkannya kepada Dirjen Perkeretaapian dan Kementerian BUMN. Ini lagu lama dan memang mainset BUMN agar core business-nya tidak diganggu oleh apa pun, dengan melempar/membagi tanggungjawab kepada pihak lain. Dalam hal ini ke Dirjen Perkeretaapian dan Kementerian BUMN.

Jadi Pemkot Bandar Lampung memang harus mengurus sendiri masalah ini, bersama warga. Caranya:

  1. Membenahi RTRW Kota agar arah pembangunan dan perizinannya semakin membaik dan menempatkan jalur KA sebagai jalur KA nonbabaranjang. Bahkan menjadi bagian dari jalur KA kota yang juga nanti harusnya kita rancang.
  2. PT KAI wajib mengajukan izin site plan atas semua aset tanah yang dimiliki. Pasalnya, klaim aset tanah PT KAI saat ini luar biasa. Dengan begitu, apa pun yang mau mereka bangun pada masa yang akan datang harus on planning, harus connect dengan urban planning yang dibuat Pemkot Bandar Lampung.
  3. Pemkot Bandar Lampung harus mereformasi transportasi kota dengan mengembangkan angkutan umum berbasis bus (BRT), angkot mikrolet dan KA. Stasiun harus juga menjadi terminal. Syaratnya, ada KA kota. Karena itu buat kajiannya, rencana dan desainnya, lalu dibangun bertahap.

PR kota kita banyak sekali. Tetapi intinya ialah kepada:

  1. Bisa jadi karena perencanaan yang keliru;
  2. Atau perencanaannya yang belum ada atau belum disiapkan. Makanya, apa pun yang dilakukan Pemkot Bandar Lampung sifatnya tabrak sana sini. Tidak ada guide book yang menuntut Pemkot membangun kota yang diharapkan oleh warganya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top