Evaluasi Pilkada di Lampung, Ini Pendapat Robi Cahyadi-Mufti Salim di Kafe Juwe


Dari kiri ke kanan: Ketua PKS Lampung Ahmad Mufti Salim, Pemred duajurai.co Juwendra Asdiansyah, pengamat politik Robi Cahyadi, dan Direktur Rakata Institute Eko Kuswanto foto bersama usai program Kafe Juwe di Studio Radio Andalas, Bandar Lampung, Jumat, 17/2/2017. | Imelda Astari/duajurai.co

Bandar Lampung, duajurai.co – Pengamat politik dari Universitas Lampung (Unila) Robi Cahyadi Kurniawan dan Ketua DPW PKS Lampung Ahmad Mufti Salim mengevaluasi pelaksanaan pilkada di lima kabupaten di Lampung. Mereka memberikan pendapatnya saat menjadi pembicara Kafe Juwe, program talkshow di Radio Andalas, Jumat, 17/2/2017.

Robi mengatakan, dalam pilkada serentak tahun ini, pelajaran yang dapat dipetik adalah petahana jangan terlalu jemawa atau merasa diatas angin. Sebab, berbagai kemungkinan akan terjadi, seperti di Tulangbawang. Pasangan petahana Hanan A Rozak-Heri Wardoyo kalah dari pasangan Winarti-Hendriwansyah versi hitung cepat (quick count) Rakata Institute. Padahal, Hanan-Heri mendapat dukungan delapan partai di parlemen, yakni PPP, Gerindra, Hanura, Golkar, PKS, NasDem, Demokrat, dan PKB.

Kemudian, soal kinerja partai juga bisa dijadikan pelajaran. Sebab, yang terlihat pada pilkada lalu, Tulangbawang khususnya, semakin sedikit parpol yang mengusung calon akan semakin efektif. “Karena dalam konteks pilkada yang dijual adalah figur. Kadang tim sukses calon yang di luar parpol juga kerja lebih kuat. Kemudian, pelajaran lainnya, yakni pergeseran pemilih di Lampung, dari pemilih tradisional ke pemilih rasional,” ujarnya.

Sementara itu, Mufti menyatakan, meskipun dalam pilkada faktor figur menjadi faktor utama, namun tak bisa lepas dari peran parpol yang mengusung. Terutama untuk calon kepala daerah yang figurnya tak begitu kuat, maka peran partai lebih dominan. “Walaupun figurnya kuat, juga tetap butuh parpol untuk kerja-kerja pemenangan. Seperti, calon Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad. Dia sebenarnya sudah kuat, tapi masih butuh partai,” kata dia.

Dalam konteks pilkada, lanjut Mufti, partai politik melakukan kerja-kerja yang berbeda di setiap daerah. Tergantung kultur dan kebutuhan daerah. Peran partai sesuai dengan sumber daya manusia yang dimiliki. Khusus Pilkada Tulangbawang, PKS adalah salah satu dari delapan partai yang mengusung. Meski PKS di Tulangbawang punya potensi suara kader yang luas, namun PDI Perjuangan menjadi partai yang sangat dominan di sana. “PDI Perjuangan di Tulangbawang itu dari sisi tokoh, jaringan, dan lainnya memang solid,” ujarnya.

Dia berharap, siapa pun nanti yang kalah dapat legowo. Sedangkan bagi pasangan yang terpilih menjadi kepala daerah bisa membawa daerahnya menjadi lebih baik. “Kalaupun kalah mudah-mudahan bisa tetap berkontribusi untuk Lampung,” kata dia.(*)

Baca juga Hari Ini, Kafe Juwe Bahas Pilkada di Lampung dan Quick Count

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Inilah 7 Komisioner KPU Lampung Terpilih Periode 2019-2024

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan 11 nama menjadi calon komisioner KPU Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *