OPINI ADMI SYARIF: Menggali Nilai Peradaban Lampung dari Masjid Al Wasii (Baru)


Admi Syarif | Akun Facebook Admi Syarif

SORE kemarin ketika absen sidik jari di jurusan, saya membaca selembar surat yang ditandatangani oleh Wakil Dekan II F MIPA Universitas Lampung (Unila). Surat tersebut berisikan ajakan berinfak untuk pembangunan Masjid Al Wasii.

Memang saya mendengar beberapa waktu lalu, Rektor meluncurkan program renovasi masjid kebanggaan civitas akademika Unila ini. Tentu saja kita menyambut gembira renovasi yang diinisiasi Rektor dan pengurus Masjid Al Wasii.

Setelah membaca surat tersebut, saya jadi tertarik untuk melihat seperti apa masjid yang akan dibangun. Ketika melewati Masjid Al Wasii, saya berhenti untuk melihat lebih detail gambar masjid di spanduk. Tertulis pula rencana biaya pembangunan yang lebih dari Rp36 miliar dan direncanakan selesai dalam waktu kurang dari 3 tahun.

Pada tulisan ini, saya tidak akan menyoroti rencana biaya atau waktu yang ditargetkan. Saya akan lebih mengapresiasi dan mengeksplorasi renovasi Masjid Al Wasii yang kelak diharapkan menjadi land mark baru kebanggaan civitas akademika dan masyarakat Lampung.

Renovasi ini merupakan momentum yang sangatlah penting. Ketika mendengar bangunan monumental seperti piramida di Mesir atau Taj Mahal di India misalnya, kita seringkali terbayang pelajaran “peradaban”. Karenanya sangatlah beralasan jika momentum renovasi ini haruslah kita gunakan untuk menghasilkan bangunan fisik baru yang memberikan nilai ketauhidan, nilai keindahan, peradaban, dan nilai ketempatan (lokal).

Ketika mengunjungi Masjid Nabawi beberapa tahun lalu, saya juga sangat terkesan dengan desain arsitektur gaya jazirah Arab. Masjid kedua yang dibangun Nabi Muhammad, setelah Masjid Quba ini dalam sejarahnya menggunakan bata dan pelepah kurma sebagai atapnya. Meski kini telah direnovasi dengan dikomandani Dr Ing Bodo Rasch, tiang-tiang yang berkesan antik dan berkarakter tetap dipertahankan.

Kembali ke desain Masjid Al wasii, dari gambar yang terpampang, nantinya memang akan sangat megah dan indah. Terlihat bahwa dengan renovasi ini, Al Wasii nanntinya tidak hanya memiliki visi ketauhidan dengan menampung lebih banyak jemaah tetapi juga menjadi wadah pendidikan sekaligus berbagai aktivitas untuk membangun peradaban.

Satu hal yang menjadi catatan saya, desain yang ditawarkan masih miskin nilai ketempatan. Aspek nilai lokal pada suatu land mark saya pikir merupakan juga hal yang sangat penting. Inner court atau taman dalam (rudhoh) pada Masjid Nabawi menjadi simbol lokal (privasi).

Al Wasii (yang baru) nantinya, saya pikir juga dapat disempurnakan dengan menonjolkan nilai ketempatan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadopsi budaya setempat, arsitektur, seni, tatanan ruang, dan sentuhan seni ornamen lokal.

Dalam beberapa tahun terakhir saya banyak berinteraksi dengan seniman ornamen Lampung baik seniman kayu, lukisan, maupun besi. Ternyata sangat banyak arsitek dan seniman yang berkreasi mengekspresikan seni lokal.

Saya pikir, sangatlah mungkin arsitek yang mendesain masjid ini juga membuka forum diskusi untuk menambahkan sentuhan lokal pada Masjid Al Wasii untuk lebih menunjukkan nilai peradaban Bumi Lampung Sai Wawai.

Komentar dan saran dari seluruh pembaca untuk kesempurnaan masukan ini sangatlah dinantikan. Semoga renovasi masjid yang yang dilandasi dengan iman dan takwa ini dapat berjalan lancar. Dan semoga juga kelak keindahan dan kemegahan Masjid Al Wasii dapat menambah kecintaan kita kepada Bumi Lampung dan Universitas Lampung.(*)

Dr Admi Syarif | Dosen Fakultas MIPA Universitas Lampung

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

RESENSI BUKU: Ikhtiar Tokoh NU Lampung untuk Perjalanan Indonesia

Judul: NU Mengawal Perubahan Zaman Penulis: Dr Abdul Syukur, M.Ag; Akhmadi Syarief Kurniawan, S.Ag; Dr …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *