OASE RAMADAN USTAZ AHMAD JAJULI: Zakat Pembersih Harta


Penyerahan zakat | ist

Penyerahan zakat | ist

Ahmad Jajuli | Anggota DPD/MPR RI asal Lampung

Zakat adalah mengeluarkan sejumlah tertentu dari harta yang hukumnya wajib untuk diserahkan kepada pihak tertentu yang disebut mustahik sesuai dengan ketentuan syariat yang diatur dalam Alquran dan sunnah. Kata zakat dan segala bentuk jadiannya dalam Alquran ditemukan sebanyak 59 kali, baik dalam ayat-ayat makkiyah (11 kali) maupun dalam surah-surah madaniyah (21 kali).

Jadi sebenarnya, konsep zakat sudah dikenal dalam Islam sejak sebelum Rasulullah SAW hijrah. Bahkan, menurut Alquran dapat pula dikatakan bahwa kewajiban zakat terdapat dalam syariat terdahulu. Ini dapat dipahami misalnya dari QS Albayyinah 98: 5, yang Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Dalam Islam diajarkan kegiatan dan ibadah tertentu yang mempunyai dampak langsung dan tidak langsung terhadap pengentasan kemiskinan. Di antaranya ialah zakat, infak dan sedekah (ZIS). Zakat mempunyai fungsi sosial yang sangat besar bagi pengentasan kemiskinan.

Pembayaran ZIS hendaknya tidak dipahami sebagai perintah ubudiyah semata, tetapi sangat jelas efek solidaritasnya antara sesama umat Islam. Srata sosial masyarakat yang paling atas menjadi lapisan yang paling rawan, sebab secara sosiologis tidak lagi mempunyai rasa solidaritas yang kuat dan kepedulian sosialnya semakin kurang.

Bagi masyarakat Islam, hal tersebut dapat ditangkal dengan tetap menumbuhkan solidaritas. Orang-orang yang berkehidupan makmur, tidak akan mudah kehilangan rasa solidaritas, asal tetap mengamalkan dan menghayati makna ibadah zakat yang mengandung pesan untuk membantu mereka yang dilanda penderitaan.

Salah satu hikmah ajaran zakat adalah harta tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya, sebagaimana firman Tuhan dalam QS Alhasyr 59:7: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Hikmah dan tujuan zakat ada beberapa macam antara lain:

Pertama, zakat menjaga dan memelihara harta dari incaran mata dantangan para pendosa dan pencuri. Nabi bersabda: Peliharalah harta-harta kalian dengan zakat. Obatilah orang-orang sakit dari kalian dengan sedekah. Dan persiapkanlah doa untuk menghadapi malapetaka. (HR Abu Dawud)

Kedua, zakat merupakan pertolongan bagi orang-orang fakir dan orang-orang yang sangat memerlukan bantuan. Zakat bisa membantu orang-orang yang lemah dan memberikan kekuatan serta kemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti ibadah, dan memperkokoh iman serta sebagai sarana untuk menuaikan kewajiban-kewajiban yang lain.

Ketiga, zakat bertujuan menyucikan jiwa dari penyakit kikir dan bakhil. Ia juga melatih seorang muslim untuk bersifat pemberi dan dermawan. Mereka dilatih untuk tidak menahan diri dari pengeluaran zakat, melainkan mereka untuk ikut andil dalam menunaikan kewajiban sosial, yakni kewajiban mengangkat (kemakmuran) negara dengan cara memberikan harta kepada fakir miskin ketika dibutuhkan; mempersiapkan tentara membendung musuh; atau menolong fakir miskin dengan kadar yang cukup.

Pada umumnya manusia mencintai harta benda melebihi dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah: “Harta  dan  anak-anak  adalah  perhiasan  kehidupan  dunia  tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Alkahfi: 46)

Alquran juga menjelaskan bahwa harta sebagai sebab tindakan durhaka yang melampaui batas. “Sesungguhnya manusia benar-benar melampui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS Alalaq: 6-7)

Oleh karena itulah zakat diwajibkan untuk melatih dirinya berbuat kemuliaan sedikit demi sedikit sehingga kemuliaan itu menjadi sifat kepribadiannya.

Karena penunaian zakat menyucikan pelakunya dari dosa-dosa, sebagaimana dijumpai dalam Alquran (tuthahhiruhum wa tuzakkihim) yang artinya mensucikan dan membersihkan, maka dapat juga dikatakan bahwa penyucian itu memiliki dimensi ganda.

Yang pertama sarana pembersihan jiwa dari sifat keserakahan karena ia dituntut berkorban demi kepentingan orang lain. Kedua, zakat berfungsi sebagai penebar kasih sayang kepada kaum yang tak beruntung serta penghalang tumbuhnya benih kebencian terhadap kaum kaya dari si miskin.

Semoga zakat dapat menciptakan ketenangan dan ketentraman bukan hanya kepada penerimanya, tetapi juga kepada pemberinya.(*)

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top