OASE RAMADAN USTAZ AHMAD JAJULI: Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW


Ustaz Ahmad Jajuli | ist

Ahmad Jajuli | Anggota DPD/MPR RI asal Lampung

ADALAH Muhammad SAW sosok manusia yang memiliki sejarah paling sukses dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dan paling besar pengaruhnya bagi umat manusia. Sukses dan pengaruh Muhammad bagi dunia sampai dewasa ini dapat dilihat dari agama Islam yang dibawanya.

Ciri kesuksesan yang diperlihatkan oleh agama yang dibawanya ini ialah, pertama, Islam terus berkembang, baik dari segi kualitas maupun kuantitas; kedua, ia menjangkau semua bangsa di berbagai belahan bumi; dan ketiga, ia menjadi sistem bukan saja sebagai sistem ritual tetapi menjadi sistem bermasyarakat dan berbangsa.

Tidak semua agama memiliki kondisi tersebut dewasa ini. Ada agama besar dunia yang tidak menjangkau semua bangsa. Ada agama yang sekarang penganutnya sudah tidak bertambah bahkan semakin berkurang. Bahkan ada agama yang dulu tergolong agama besar, sekarang tinggal sejarah.

Tumbuh dan berkembangnya Islam seperti ini, tentu saja selain karena keluhuran pesan kandungannya juga karena sosok pembawanya yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan kepada manusia sehingga dapat diyakini dan diterima serta diteruskan dari generasi ke generasi.

Muhammad lahir sekitar 14 abad yang lalu, tepatnya 751 Masehi. Beliau meninggal pada usia sedang-sedang saja dibanding usia rata-rata manusia, yakni 63 tahun, dan mengemban dakwahnya hanya 23 tahun. Usia ini lebih singkat dibanding usia nabi-nabi terdahulu. Bandingkan usia Nabi Adam 930 tahun, Nuh 950 tahun, dan Ibrahim 175 tahun.

Atas sukses yang dicapainya dan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan umat manusia dalam perjalanan sejarah, maka para pakar sosiologi dan sejarawan, baik muslim maupun nonmuslim pasti akan mengakui sukses dan pengaruhnya itu. Tentu saja keberhasilan Muhammad itu, selain karena memiliki akhlakul karimah yang patut dicontoh dan diteladani, juga karena faktor kepemimpinannya yang simpatik sehingga orang-orang yang menggunakan nalar rasional pasti tertarik mengikuti dakwahnya.

Nabi Muhammad menjadikan kejujuran sebagai tonggak utama ciri kepemimpinannya. Dalam salah satu hadisnya, beliau mengatakan, “Kejujuran itu baik akan tetapi paling baik kejujuran bila dimilki oleh pemimpin.” Karena kejujuran itu maka beliau digelar al-Amin yang artinya Sang Jujur.

Toleran menjadi gaya kepemimpinan Muhammad SAW. Karena toleransinya, ia mendapatkan simpati dari pengikutnya. Ini misalnya ditunjukkan ketika ia menerima aduan dua sahabatnya yang kembali dari perjalanan. Keduanya melaporkan bahwa saat waktu salat masuk dan tidak ada air, keduanya melakukan tayamum lalu melaksanakan salat.

Tetapi ketika selesai, keduanya menemukan air. Sikap keduanya berbeda. Yang satu tidak melakukan salat lagi karena sudah merasa memadai dengan salat tadi. Sementara yang satu lainnya menggunakan air untuk wudlu dan mengulangi salatnya.

Mendapat laporan itu, Nabi Muhammad SAW tidak menyalahkan satu di antara keduanya. Beliau mengatakan kepada yang tidak mengulangi salatnya, “Engkau benar dan telah melaksanakan sunnah.” Dan kepada yang mengulangi salatnya beliau mengatakan, “Engkau tidak salah dan bagimu dua pahala.”

Sikap toleransi Nabi diperlihatkan pula ketika bernegosiasi dengan tamunya dari Thaif yang mau menerima Islam dengan sejumlah syarat. Nabi menolak sebagian permintaan mereka, yaitu pertama, tetap mau melakukan perzinahan; kedua, masih ingin menjalankan riba; dan ketiga, tetap ingin mengonsumsi minuman keras.

Sementara permintaan yang diterima oleh Nabi untuk sementara waktu ialah, pertama, mereka tidak ingin meninggalkan tradisi sesembahan berhala Al-Lata selama tiga tahun; kedua, ingin bebas dari pembayaran zakat; dan ketiga, tidak ingin ikut berjihad.

Sejalan dengan sifat toleransi yang tinggi, baik kepada kawan maupun kepada lawan, sifat lain yang menonjol dari pribadi Nabi SAW adalah pemaaf. Dari ajaran-ajarannya, baik yang tercantum di dalam Quran maupun di hadis, sejumlah anjuran bahkan perintah untuk memberi maaf, bukan minta maaf.

Hal itu menunjukkan betapa mulia kedudukan orang pemaaf dalam Islam. Salah satu faktor keberhasilan Nabi dalam menjalankan risalahnya adalah sifat pemaaf itu.

Pernah suatu ketika, saat Nabi sedang beristirahat di bawah sebatang pohon, tiba-tiba didatangi oleh Da’tsur dengan pedang terhunus dan hendak membunuhnya. Entah kenapa pedang itu jatuh dan diambil alih oleh Nabi. Ketika itu terbuka kesempatan bagi Nabi SAW untuk membunuh Da’Tsur. Akan tetapi hal itu tidak dilakukannya dan bahkan beliau memaafkannya. Da’tsur kemudian kembali ke sukunya dan mendakwahkan Islam.

Jiwa pemaaf yang paling tinggi diperlihatkan Nabi Muhammad saat penaklukan kota Mekkah. Ketika itu dia tampil sebagai pemenang yang dapat melakukan pembalasan terhadap penduduk Mekkah yang pernah mengusirnya dari kampung halamannya, menyakitinya, dan merampas hak miliknya, sehingga akhirnya hijrah ke Madinah bersama pengikut-pengikutnya.

Namun, semuanya dilupakan Nabi. Ia tidak melakukan pembalasan. Beliau justru memberikan amnesti (pengampunan) secara menyeluruh kepada orang-orang yang pernah berbuat salah kepadanya. Karena sifat pemaaf itu, maka mereka dengan kesadaran mengikuti kepemimpinannya dan menganut agama Allah yang didakwahkan Nabi.

Dengan demikian, jujur dan toleransi yang disertai dengan sifat pemaaf merupakan ciri kepemimpinan Nabi Muhammad. Ini patut dicontoh oleh umatnya, terutama yang mendapat amanah menjadi pemimpin, baik formal maupun nonformal. Wallah al-muwafiq ila aqwam al-thariq.(*)

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top