OASE RAMADAN USTAZ AHMAD JAJULI: Aktualisasi Nilai-Nilai Salat


Ilustrasi | Ist

Salat | Ist

Ahmad Jajuli | Anggota DPD/MPR RI asal Lampung

ahmad jajuli putihSalah satu peristiwa penting dalam sejarah peradaban umat Islam adalah perjalanan Isra Mikraj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, di mana nilai-nilai yang terpancar dari peristiwa tersebut tetap akan aktual sepanjang zaman.

Peristiwa Isra Mikraj selalu diperingati oleh umat Islam dan dijadikan momentum untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang tekandung di dalamnya.

Dalam peristiwa tersebut, paling tidak ada empat nilai fundamental yang penting, yaitu:

Pertama, peristiwa tersebut memberikan isyarat bahwa manusia perlu membangun komunikasi sosial-horisontal. Di situ, perjalanan Nabi SAW masih bersifat horisontal dari bumi ke bumi, yang disimbolkan dari masjid ke masjid, yakni Masjid Alharam Mekkah ke Masjid Alaqsha, Palestina. Maka, mestinya masjid sebagai simbol sentra kegiatan dan keberagamaan umat Islam harus ditransformasikan ke dalam kehidupan sosial. Umat Islam harus mampu membangun relasi sosial yang harmonis di tengah kehidupan masyarakat.

Kedua, saat peristiwa tersebut, Nabi SAW naik ke sidratul muntaha untuk berjumpa dengan Allah SWT. Ini memberikan pelajaran penting bahwa manusia harus melakukan “transedensi”, dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga terhindar dari jebakan kehidupan materialisme, yang seringkali membuat manusia kalap dan lupa diri, hingga akhirnya melakukan tindakan pelanggaran hukum yang banyak merugikan orang lain.

Ketiga, setelah Nabi Muhammad menjalani mikraj (naik), beliau berjumpa dengan Tuhan. Ini sebuah pengalaman spiritual yang sangat indah. Namun luar biasa, Nabi kemudian masih turun kembali untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada umatnya, demi keselamatan umatnya.

Seandainya Nabi orang yang egois, niscaya beliau enggan turun lagi ke bumi. Bukankah saat itu Nabi telah berada dalam puncak kenikmatan spiritual yang sangat indah? Sebuah pertemuan antara al-habib (pencinta) dan al-mahbub (kekasih) yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Itu cermin bahwa beliau adalah manusia paripurna (insan kamil) dan seorang sufi yang otentik, yang bukan hanya saleh (baik pribadinya), tetapi juga muslih (membuat orang lain menjadi baik).

Peristiwa itu juga memberi pelajaran penting bahwa kita tidak boleh terjebak pada kesalehan ritual-spiritual semu. Sebab kesalehan yang otentik adalah manakala seseorang bisa membangun relasi yang harmonis dan seimbang, antara dirinya dengan Allah SWT (hablun min Allah), dan dirinya dengan sesama manusia (hablun min an-nas), termasuk alam lingkungan sekitarnya (hablma’a al-bi’ah).

Keempat, dalam Isra Mikraj, Nabi SAW mendapat perintah yang sangat penting yaitu salat. Sedemikian pentingnya salat, sehingga perintah itu diterima langsung oleh Nabi tanpa perantara. Salat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan salat berarti menegakkan agama. Barangsiapa yang meninggalkan salat berarti menghancurkan agama. Demikian, sabda Nabi dalam hadisnya.

Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita memaknai ulang pesan moral dalam ritual salat tersebut. Jangan kita terjebak pada salat seremonial, tanpa makna. Alquran mengkritik orang-orang yang salat sebagai pendusta agama dan masih akan celaka, jika mereka lalai akan pesan moral di balik ajaran salat (QS, Almaun: 3-4). Jadi, ritualitas itu harus membuahkan kesalehan moral.

Hati yang damai, tenteram dan berbagai sifat yang baik tentu akan tercermin dalam kehidupan pribadi seorang mushalli yang khusyuk. Mereka tidak akan melakukan sesuatu aktivitas yang melanggar syariat karena hatinya selalu berzikir kepada Allah. Sebaliknya, orang melaksanakan salat hanya untuk melepaskan kewajiban dan bukan sebagai kebutuhan rohaniah, maka nilai salatnya akan minim dan mungkin tidak bernilai apa-apa di sisi Allah.

Salat sesungguhnya mengajarkan kepada kita akan pentingnya disiplin waktu. Kalau begitu, ciri kebaikan salat seseorang adalah disiplin waktu, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam salat terkandung pesan ke-tawadlu-an (rendah hati). In tercermin  dari betapa kita rela meletakkan kepala yang kita hargai ke tempat sujud. Kesombongan dan kepongahan bukan sifat orang yang baik salatnya. Salat mengajarkan kita akan pentingnya menebar nilai kedamaian dan keharmonisan.

Yang jelas, salat harus dikerjakan sebagai washillah kepada Allah SWT. Apabila washillah tersebut terputus maka hubungan kepada Allah menjadi terputus. Apabila hal tersebut terjadi maka sangat memungkinkan hubungan sosial kepada sesama manusia juga terputus karena orang seperti ini tidak mendapat hidayah dari Allah SWT.

Untuk mendapatkan hidayah dariNya, jalan yang paling ampuh adalah melalui salat, karena di dalamnya diajarkan bagaimana memaksimalkan ingatan kepada-Nya. Dan selanjutnya orang yang banyak mengingat Allah tentu dengan sendirinya selalu terhindar dari perbuatan yang fakhsya’ dan mungkar, baik kepada Allah juga kepada sesama manusia, bahkan kepada mahluk Allah yang lain.(*)

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top