PUASA SANG DUAFA: Mbah Tuminah Pedagang Sayur Matang Keliling Ingin Punya Rumah gubuk


MBAH Tuminah (70) mendapat santunan zakat yang merupakan kerja sama IZI Lampung dan duajurai.com. Zakat diserahkan oleh Pemred duajurai.com Juwendra Asdiansyah, Jumat sore, 24/6/2016. | Imelda Astari/duajurai.com
MBAH Tuminah (70) mendapat santunan zakat yang merupakan kerja sama IZI Lampung dan duajurai.com. Zakat diserahkan oleh Pemred duajurai.com Juwendra Asdiansyah, Jumat sore, 24/6/2016. | Imelda Astari/duajurai.com

Duajurai.com, Bandar Lampung – Mbah Tuminah (70), pedagang sayur matang keliling di Bandar Lampung mengaku lebih memilih bekerja susah payah, meski harus panas-panasan berjalan kaki mulai dari rumahnya di Kedamaian, ke Kota Baru, Tanjungkarang Timur, hingga kadang sampai kawasan Rawa laut, ketimbang menjadi pengemis.

Menurutnya, dirinya termasuk orang mampu selagi masih diberi kesehatan oleh yang maha kuasa. “Saya masih kuat. Alhamdulillah masih sehat-sehat saja. Paling sakit kaki. Linu tulang kaki kalau habis jalan jauh. Ya obatnya balsem saja. Kalau sakit meriang, paling dikerokin juga sembuh,” kata  Mbah Tuminah saat ditemui duajurai.com di kawasan Kotabaru, Tanjungkarang Timur, Jumat sore, 24/6/2016.

Warga Umbul Buah, Kedamaian Bandar Lampung itu sebelum menjadi penjual sayur matang keliling, dulunya dia bekerja sebagai tukang mencuci dan menyetrika baju di rumah orang selama kurang lebih 10 tahun. Setelah itu, sempat juga mejajal peruntungannya menjadi penjual pempek. Terakhir dia memutuskan untuk fokus berjualan sayur matang, bekerja sama dengan putrinya.

“Sempat saya kepengen kerja nyuci gosok lagi, biar ada tambahan uang selain dari jualan sayur matang. Tapi gak ada lagi yang mau terima saya jadi tukang cuci atau bantu-bantu di rumah orang, kalau saya datangin mau ngelamar kerja, orang-orang itu alasannya kasian dan gak tega,” tuturnya.

Almarhum suami Mbah Tuminah, dulu  bekerja sebagai tukang becak. Selagi masih ada suaminya, mereka mengontrak rumah di daerah Sukamulya Kedamaian. Namun, sepeninggal suaminya, Mbah Tuminah menjadi janda dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Dia menceritakan masa-masa sulitnya menjadi ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya.

“Kami makan aja seketemunya saja. Pernah saya makan singkong rebus doang karena gak kebagian nasi. Dulu itu, saya beli beras setengah kilogram bisa dipakai dua hari saking mengiritnya,” kisah nenek kelahiran Bekri Lampung Tengah itu.

Karena terhimpit ekonomi itulah, ketiga anaknya harus putus sekolah bahkan masih di jenjang sekolah dasar. Karenanya dia tidak mau menuntut banyak kepada ketiga anaknya karena memang dia tak sanggup menyekelahkan mereka.

“Anak saya yang sudah berkeluarga nawarin tinggal bareng, tapi saya gak enak. Karena mereka juga susah. Selagi saya masih bisa kerja sendiri ya kerja saja dulu. Saya katakan ke mereka, kalau mau ngurus saya nanti kalau saya sudah gak bisa apa-apa lagi,” ujarnya.

Mimpinya yang hingga saat ini belum juga terwujud adalah, memiliki rumah sendiri meskipun gubuk. “Saya pengen punya rumah, gubuk tak apa. Tapi sampai sekarang belum kesampean,” katanya lirih.

Mbah Tuminah bisa dijumpai setiap sore, di kawasan Kota Baru. Selain itu ia juga biasa menjajakan sayur matangnya di Kedamaian. “Kalau pas bawa sayurnya banyak, bisa keliling sampai daerah Brimob, Rawa Laut,” kata Mba Tuminah (*)

Liputan ini merupakan kerja sama duajurai.com dengan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Perwakilan Lampung. Setiap duafa yang menjadi narasumber mendapatkan santunan dari IZI.

Baca sebelumnya: PUASA SANG DUAFA: Mbah Tuminah, 15 Tahun Berdagang Sayur Matang Keliling Bandar Lampung

Laporan Imelda Astari, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *