OPINI RAMADHAN NURPAMBUDI: Cuaca Ekstrem Jelang Musim Kemarau di Lampung (1)


Ilustrasi cuaca ekstrem | ist
Ilustrasi cuaca ekstrem | ist

MUSIM kemarau sejatinya sudah berlangsung di wilayah Lampung pada dasarian kedua bulan Mei. Di beberapa wilayah dan lainnya baru akan mulai pada dasarian ketiga bulan ini.

Menjelang kemarau kita dihadapkan dengan fenomena cuaca yang tidak menentu. Pada pagi hingga siang hari cuaca sangat panas, lalu malamnya hujan deras disertai petir. Bahkan, di wilayah pesisir seperti Pesisir Barat, Tulang Bawang, dan Lampung Timur hujan deras dapat terjadi mulai pagi hari. Kondisi seperti ini wajar pada saat masa transisi seperti sekarang.

Pada bulan ini, posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU). Posisi tersebut menyebabkan aliran massa udara bergerak ke utara. Hal ini karena banyaknya daerah tekanan rendah di wilayah BBU dan tekanan tinggi di Belahan Bumi Selatan (BBS). Aliran massa udara menuju ke utara sering disebut dengan angin monsun Australia.

Saat ini, kita berada dalam transisi dari monsun Asia (musim hujan) menuju ke monsun Australia (musim kemarau). Kondisi ini menimbulkan banyak daerah yang bertekanan rendah serta sirkulasi eddy di perairan Natuta, Laut Cina Selatan, hingga Samudera Hindia. Sehingga, menyebabkan banyak terjadi curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat, salah satunya Lampung.

Daerah dengan tekanan rendah di kawasan Samudera Hindia dan Perairan Natuna menyebabkan suhu muka laut menjadi lebih panas. Hal ini akibat penguapan yang besar yang dapat membentuk pumpunan awan yang dimulai dari lautan.

Saat ini, kondisi suhu muka laut yang terpantau di wilayah tersebut berkisar 30°C-31°C. Dengan suhu muka laut seperti itu wajar jika pada saat sore menjelang malam hari kita dihadapkan dengan cuaca buruk. Pumpunan awan yang terbentuk mulai pagi hingga siang hari di lautan membutuhkan waktu untuk sampai ke daratan. Kondisi seperti ini disebut dengan proses adveksi, yaitu masuknya massa udara dari lautan menuju ke daratan.

Berbeda dengan proses konveksi pemanasan yang terjadi di daratan dan membentuk pumpunan awan tepat diatas daratan. Kondisi seperti itu akan memberi dampak cenderung tidak seburuk proses adveksi. Pumpunan awan yang terbentuk dari proses konveksi akan memberi dampak lokal terhadap suatu daerah. Kemudian, fenomena cuaca yang ditimbulkan terjadi dalam waktu yang relatif singkat, yakni kurang dari satu jam.(*)

Ramadhan Nurpambudi | Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten II Branti Lampung


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Skandal Garuda, Momentum Bersih-Bersih BUMN

DR ANDI DESFIANDI SE MA | Ketua Bidang Ekonomi DPP Bravo Lima SKANDAL Direksi Garuda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *