Ketika Seniman Lampung Diskusi Situasi Genting Kesenian Kampus (2-Habis)


SEJUMLAH mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung menggelar aksi bisu dan teatrikal di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Sabtu, 7/5/2016. Aksi tersebut sebagai bentuk protes atas penangkapan 16 mahasiswa, beberapa waktu lalu. | M Idris Muadinnullah/duajurai.com
SEJUMLAH mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung menggelar aksi bisu dan teatrikal di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Sabtu, 7/5/2016. Aksi tersebut sebagai bentuk protes atas penangkapan 16 mahasiswa, beberapa waktu lalu. | M Idris Muadinnullah/duajurai.com

Duajurai.com, Bandar Lampung – Puluhan orang dari berbagai kalangan, terutama dari mahasiswa dan seniman Lampung memadati Graha Kemahasiswaan lantai II Universitas Lampung, pada Sabtu malam, 14/5/2016. Mereka memenuhi ruang yang biasa dipakai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bidang Seni (BS) untuk latihan olah tubuh tersebut untuk berdiskusi.

Baca sebelumnya: Ketika Seniman Lampung Diskusi Situasi Genting Kesenian Kampus (1)

Lalu satu persatu peserta dimintai tanggapan, dimulai dari Rifian A Chepy yang menyatakan bahwa dia salut kepada kawan-kawan UKM SBI yang masih konsisten menyuarakan demokrasi. “Beginilah seharusnya mahasiswa, hak-hak mahasiswa harus diperjuangkan,” ujar Ketua Dewan Kesenian Metro itu seperti dalam rilis yang diterima duajurai.com, Senin, 16/5/2016.

Lalu secara bergantian, peserta menyampaikan pandangan dan masukan untuk pergerakan selanjutnya.
Yang menarik dan tentunya sangat mengejutkan bagi peserta diskusi ketika Urip, seorang seniman teater mendapatkan kesempatan untuk buka suara, tiba-tiba dia berdiri setengah berlari, keliling di depan peserta diskusi yang membentuk lingkaran.

“Gawat! GAWAT!…” begitu teriaknya dengan ekspresi sangat serius. Kemudian dia menyalami Ari Pahala Hutabarat, dan seniman lainnya seolah mengabarkan bahwa situasi sedang genting-gentingnya.

Suasana riuh, tepuk tangan mengiringi Urip yang baru selesai menyampaikan pandangannya. Waktu seakan terlalu singkat. Alexander GB selaku moderator tiba-tiba menyampaikan simpulan diskusi.

Menurut Alex, pembekuan wadah kesenian di dalam kampus adalah tindakan yang menandai kemunduran dan tidak mengertinya pihak kampus terhadap pentingnya UKM Seni yang merupakan ujung tombak pembangunan mental melalui seni dan budaya.

Selanjutnya, segala upaya harus optimal. Upaya advokasi, mediasi, dan juga aksi unjuk rasa harus tetap dilakukan, dan terakhir seniman se- Lampung akan menyampaikan petisi terkait apa yang terjadi di IAIN Raden Intan Lampung.

“Rektor harus memberikan klasifikasi, bukan malah membiarkan isu yang beredar di luar semakin meluas dan tidak jelas,” tutup Ketua Komite Teater DKL asal Ulu Belu, Tanggamus ini. (*)

Laporan Imelda Astari, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

Nanang Ermanto: Estimasi Anggaran Pendapatan Daerah Lamsel 2020 Rp 2,3 Triliun

KALIANDA, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto menyampaikan nota keuangan Rancangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *