Ketika Seniman Lampung Diskusi Situasi Genting Kesenian Kampus (1)


Aksi mahasiswa dari Sikam Lampung di Tugu Adipura, Minggu pagi, 8/5/2016. | Dokumentasi UKMBS Unila
Aksi mahasiswa dari Sikam Lampung di Tugu Adipura, Minggu pagi, 8/5/2016. | Dokumentasi UKMBS Unila

Duajurai.com, Bandar Lampung – Puluhan orang dari berbagai kalangan, terutama dari mahasiswa dan seniman Lampung memadati Graha Kemahasiswaan lantai II Universitas Lampung, pada Sabtu malam, 14/5/2016. Mereka memenuhi ruang yang biasa dipakai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bidang Seni (BS) untuk latihan olah tubuh tersebut untuk berdiskusi.

Ruangan tersebut menjadi sejarah bagi perjuangan mahasiswa yang bergerak di bidang seni, tak hanya bagi Unila tetapi bagi seniman kampus lainnya di Lampung. Pada malam tersebut, diinisiasi Keluarga Besar Seniman Kampus (SIKAM) Lampung, diskusi digelar membahas nasib kesenian di kampus, yang belakangan disorot akibat adanya pembekuan UKM Seni dan Budaya Islam (SBI) IAIN Raden Intan.

Berdasarkan rilis yang diterima duajurai.com, Senin, 16/5/2016, dalam diskusi yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut hadir berbagai perwakilan dari komunitas seni baik mahasiswa maupun umum. Hadir dalam diskusi dari Ketua Bidang Tari dan Teater Dewan Kesenian Lampung (DKL), Hari Djayadiningrat.

Selain itu, Ketua Komite Sastra DKL Ari Pahala Hutabarat, Ketua Komite Teater DKL Alexander Gebe, Ketua Dewan Kesenian Metro (DKM) Rifian A Chepy, beberapa seniman terkemuka Lampung seperti Arman AZ, Edi Samudera Kertagama, Ivan Soemantri Bonang, M. Yunus, Iin Mutmainah, dan Inggit Putria Marga.

Hadir pula dalam diskusi terbuka tersebut penggiat teater dari Teater Satu, Komunitas Berkat Yakin (KoBER), dan UKM-UKM yang tergabung dalam Keluarga Besar Sikam Lampung seperti UKM Senior Umitra, UKMBS Malahayati, UKMBS Polinela, UKM Komunitas Biroe IBI Darmajaya dan tentunya perwakilan dari UKM Seni Budaya Islam (SBI) IAIN Raden Intan Lampung.

Di awal acara, Koordinator SIKAM Lampung, Edythia Rio Wirawan menyampaikan latar belakang diskusi terkait pembekuan UKM SBI IAIN Raden Intan Lampung. Dalam pemaparannya, diskusi ini bertujuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada. Karena dari apa upaya yang telah dilakukan SIKAM Lampung selama ini masih belum membuahkan hasil.

Diskusi pun dimulai, ruangan semakin malam semakin penuh, gelas berisi kopi dan teh tampak berjejer di depan peserta diskusi.

Saron, Ketua Umum UKM SBI menyampaikan kronologi aksi mereka, mulai dari hari pertama demonstrasi di depan Perpustakaan Pusat IAIN Raden Intan, pembekuan UKM SBI, sampai kronologi penangkapan 16 aktivis kampus, serta penyegelan sekretariat UKM SBI IAIN.

“Kita semua bersepakat bahwa infaq tidak boleh ditentukan jumlahnya. Apapun alasannya itu tidak dapat dibenarkan, kami berdemo meminta transparansi di kampus kami, kami menuntut hak kami. Alih-alih tuntutan kami dipenuhi, pihak rektorat malah membekukan organisasi kami. Ini kesewenang-wenangan!” kata Saron.(*)

Laporan Imelda Astari, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

HUT ke-7, Emersia Lampung Beri Beasiswa kepada Warga Sekitar Hotel

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Hotel Emersia Lampung mengadakan kegiatan corporate social responsibility (CSR) dalam rangka hari ulang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *