Kesan Siti Mahasiswi STIKes Mitra Lampung tentang Perawat: “Ibarat Malaikat bagi Pasien”


Universitas Mitra (Umitra) Lampung | ist
Universitas Mitra (Umitra) Lampung | ist

Duajurai.com, Bandar Lampung – STIKes Mitra Lampung memiliki banyak mahasiswa berprestasi. Salah satunya adalah Siti Fatmawati. Namun, ada cerita menarik kala membicarakan mahasiswi semester dua Prodi Keperawatan tersebut.

Ya, menurut Itis, begitu ia biasa disapa, tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya, bahwa kelak ia akan kuliah keperawatan.

“Sejak kecil aku tidak pernah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang perawat atau dokter. Aku dulu hanya ingin menjadi seorang reporter yang aku pikir tidak berisiko karena jauh dari mayat, darah bahkan hantu. Bahkan dari kecil aku sangat takut dengan benda-benda yang berada di rumah sakit seperti halnya selimut belang yang abu–abu,” ungkap Itis seperti dalam rilis yang diterima duajurai.com, Jumat, 13/5/2016.

Menurut gadis kelahiran Tanjung Tirto, Lampung Timur, 12 Agustus 1997 itu, cita-citanya mulai berubah ketika sang ibu meminta Itis untuk melanjutkan sekolah menengah kejuruan (SMK) Kesehatan.

“Awal aku mulai mengenal dunia kesehatan, memang banyak tes yang mungkin aku lalui saat itu mulai dari tes tertulis, tes kesehatan, dan wawancara. Ya, aku lulus. Setelah melewati masa orientasi siswa selama 3 hari aku resmi terjun ke dunia kesehatan. Bahkan pendaftaran hingga aku memasuki sekolah tanpa didampingi ibu, karena saat itu ibu ikut bantu ayah kerja di gunung, “ kenang putri dari Yatmin dan Patonah yang punya hobi makan ini.

Itis menceritakan, awalnya ia merasa berat bersekolah di SMK Keperawatan. Sebab betapa banyak mata pelajaran yakni lebih dari 20 mata pelajaran yang harus dipelajari, belum lagi ditambah tugas.

“Tetapi dengan seiring berjalannya waktu semua mampu kulewati karena ibu tak lelah memberiku semangat dan ayah tak lelah berhenti mengalunkan doa-doanya untukku. Mungkin beliau hanyalah seorang petani tapi beliau sangat sangat luar biasa Allah ciptakan untukku,” tutur Itis yang beralamat di Tanjung Tirto Way Bungur ini.

Hingga akhirnya Itis mengerti bahwa seorang perawat adalah malaikat. Malaikat tanpa sayap. Mereka dituntut dengan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan. Kini, dari sekian profesi, Itis begitu bangga dengan perawat.

“Kenapa? Bukan dari seragam mereka, bukan dari tempat kerja mereka, dan bukan juga karena gaji mereka. Tapi karena seorang perawat adalah mereka yang bekerja dengan tujuan utama menolong. Perawat tidak pernah jauh dari mereka yang selalu meminta pertolongan bahkan detik, menit seorang perawat mereka lakukan dengan merawat pasien,” ujar aktivis Himakes Umitra itu.(*)

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

35 Honorer Tak Diupah 7 Bulan, Plt Kepala DKP Lampung: Tak Ada Anggaran

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung Makmur Hidayat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *