PROFIL GRACE LAY, PEMILIK KUMON SRIWIJAYA BANDAR LAMPUNG: Mengajar Sejak Kelas 2 SMP


GRACE Lay, Pendiri dan pemilik Kumon Sriwijaya, Bandar Lampung |duajurai.com
GRACE Lay, Pendiri dan pemilik Kumon Sriwijaya, Bandar Lampung |duajurai.com

Duajurai.com, Bandar Lampung – Kumon Sriwijaya adalah Kumon pertama yang berdiri di Lampung. Berdiri sejak April 2013, lembaga bimbingan belajar yang  berlokasi di Jl Sriwijaya No 1G, Enggal, telah memiliki lebih dari 200 siswa.

Membicarakan kesuksesan Kumon Sriwijaya tak lepas dari peran pendiri dan pemiliknya, Grace Lay. Ditemui duajurai.com di kantornya, Senin, 2/5/2016, Grace Lay bercerita mengenai kehidupannya serta kiprahnya dalam membangun Kumon Sriwijaya.

Kepada duajurai.com, Grace mengaku sudah mulai mengajar sejak duduk di bangku kelas dua SMP. “Awalnya Om nantangin saya, dia bilang kamu bisa ngajar anak itu nggak? Nanti ya uangnya buat kamu,“ kenang alumni SMA 2 Bandar Lampung ini memulai kisahnya.

Menurutnya, sejak kecil dirinya sudah senang bermain sekolah-sekolahan. Lalu saat menginjak SMP kelas 2, ia mulai mengajar privat atau les. Aktivitas tersebut ia lakukan hingga kuliah. “Baru sampai saya harus menyelesaikan skripsi, ya berhenti untuk fokus menyelesaikan kuliah dulu,“ katanya.

Saat kuliah, aktivitas mengajar ia jalani seusai pulang kuliah. Meski di tengah aktivitas kuliah yang padat, ia tetap bisa mengatur kesibukan kuliah dan aktivitas mengajarnya. Ia juga tidak merasa bosan, walau fisik pasti lelah. “Kampus di Grogol Jakarta, sedang saya mengajar di Sunter, ya harus naik angkot dua kali,“ kata perempuan yang telah berumur 39 tahun ini.

Grace menuturkan, walau ia cinta dengan dunia pendidikan dan anak-anak, namun program sarjananya tidak ditempuh pada bidang yang sekarang dia tekuni. Ia berkuliah di Universitas Trisakti jurusan Akuntansi. Menurutnya itu atas keinginan orangtuanya. Di awal ia menjalani ada keterpaksaan.

“Saya kuliah sekadar menjalankan kewajiban kuliah. Hingga di semester 4 saya mulai berfikir kok sia-sia saja kalau tidak serius kuliah padahal sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit,“ terang perempuan yang sudah bersuami ini.

Setelah wisuda, ia mulai bekerja di Lasalle College Internatinal. Di tahun 2008, ia memutuskan melanjutkan studinya di Psikologi Universitas Taruma Negara. Biaya studi, ia dapatkan dari hasil kerjanya.

Menurutnya, yang kadang jadi kesulitannya itu karena pikirannya jadi dua, saat di kantor berkutat dengan angka-angka, sedang saat kuliah psikologi ia dihadapkan dengan deskripsi yang panjang dan harus berusaha tetap fokus belajar hingga malam.

“Saya sendiri bingung juga gimana dulu bagi waktunya, yang pasti saya bisa menanganinya karena itu sudah jadi niat saya,“ ujarnya.(*)

Laporan Rosmayanti, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

Reses, Al Muzzammil Yusuf Sosialisasikan Bahaya LGBT di Metro Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wakil Ketua Komisi II DPR Al Muzzammil Yusuf mengunjungi Kota Metro, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *