Prodi Komunikasi Unila Gelar Bedah Buku “Ketika Film Layar Lebar Hadir di Televisi”


Penulis buku Azimah Soebagijo sedang memberikan penjelasan. |Dokumentasi pribadi Naufal/mahasiswa Prodi Ilkom Fisip Unila
Penulis buku Azimah Soebagijo sedang memberikan penjelasan. |Dokumentasi pribadi Naufal/mahasiswa Prodi Ilkom Fisip Unila

Duajurai.com, Bandar Lampung – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Lampung (Unila) menggelar diskusi dan bedah buku ‘Ketika Film Layar Lebar Hadir di Televisi’, pada Senin, 2/5/2016. Kegiatan berlangsung  di Gedung B FISIP Unila.

Berdasarkan rilis yang diterima duajurai.com dari pengurus Prodi Ilkom Fisip Unila, bertindak sebagai pembicara diskusi adalah sang penulis buku Azimah Soebagijo dan Dr Abdul Firman Ashaf (akademisi komunikasi Unila). Diskusi dipandu moderator Anna Gustina.

Menurut panitia, diskusi dilatarbelakangi penayangan film lepas dan sinetron yang disiarkan stasiun televisi yang dianggap berdampak negatif bagi masyarakat.

Dalam diskusi, Azimah menjelaskan, film lepas ataupun sinetron yang kini menjamur tidak luput dari bagian proses bisnis media. “Ada banyak hal yang selama ini dilanggar oleh stasiun televisi karena menayangkan film layar lebar ataupun sinetron yang tidak sesuai kualifikasi,” jelasnya seperti dalam rilis.

Azimah yang juga merupakan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat tersebut mengajak khalayak mampu selektif dalam menonton tayangan. “Matikan apabila tayangan tidak sesuai ataupun bermuatan yang tidak pantas,” ingatnya.

Atas permasalahan tersebut, Azimah sebagai penulis berupaya mendorong lembaga penyiaran, khususnya televisi untuk menjalankan fungsinya dalam menyuguhkan hiburan yang sehat.

“Ini penting agar program hiburan, khususnya film lepas di televisi bukan hanya mampu menghadirkan keceriaan atau menghilangkan penat pemirsa, namun juga bebas dari perilaku-perilaku yang menyimpang, seperti seks, kekerasan, mistik, napza, atau judi,” jelasnya.

Sementara pembicara lainnya Abdul Firman Ashaf mengungkapkan, film dapat dilihat dari dua sisi, yakni sebagai cermin dan sebagai representasi. “Film merupakan perwujudan dari aktifitas praktik sosial,” katanya. (*)

Laporan Imelda Astari, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

Reses, Al Muzzammil Yusuf Sosialisasikan Bahaya LGBT di Metro Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wakil Ketua Komisi II DPR Al Muzzammil Yusuf mengunjungi Kota Metro, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *