Alami Tripping 8 Jam, Anak Pengguna Narkoba Kertas Happy Bisa Lihat “Tembok Bernapas”


ilustrasi anak stres | ist
ilustrasi anak stres | ist

duajurai.com, Bandar Lampung – Berbentuk layaknya permen kertas, narkotika LSD (lysergyc acid diethylamide) dikonsumsi dengan cara ditelan atau ditaruh di lidah dan meleleh sendiri. Kertas LSD umumnya sudah diresapi LSD berdosis 100-300 mikrogram.

Dikutip dari situs BNN (www.bnn.go.id), setelah teresap, pemakai akan merasakan efek LSD yang disebut tripping. Ini bisa berlangsung hingga 6-8 jam, ditambah 2-6 jam offset (penurunan). Efek tripping antara lain meningkatnya energi dan sulit tidur. Terjadi juga halusinasi penglihatan seperti tembok yang bernapas, motif gambar bergerak, sampai perubahan bentuk benda (morphing), serta mendengar suara atau sosok lain.

Baca Narkoba Baru Kertas Happy, BNN Lampung: Orang Dewasa Saja Bisa Mabok, Apalagi Anak-Anak

Pengguna LSD biasanya menamakan tripping sebagai sebuah perjalanan yang berlangsung selama 12 jam atau lebih. Syangnya, halusinasi yang dialami tidaklah selalu indah. Terkadang perjalanan mereka berlangsung buruk yang biasa disebut “jalur neraka”. Beberapa pengguna LSD akan memiliki pikiran yang menakutkan, perasaan putus asa, takut kehilangan kontrol, takut gila atau takut mati.

Pada beberapa individu, perjalanan ini akan bertahan di kepala dan menyebabkan penderitaan yang signifikan, penurunan fungsi sosial, pekerjaan, gangguan persepsi, dan halusinasi berkelanjutan yang disebut hallucinogen-induces persisting perceptual disorder (HPPD).

Jika yang muncul “perjalanan baik”, pengguna LSD akan merasa santai dan bahagia serta memiliki gambaran halusinasi yang menyenangkan. Sebaliknya, perjalanan buruk bisa membuat pemakai merasa gelisah dan bingung dengan halusinasi yang menakutkan dan perasaan tidak nyaman.

Baca Mengenal LSD, Narkoba Berbentuk Kertas yang Bikin Khawatir Orangtua di Lampung

Pemakai LSD juga akan merasakan perubahan suasana hati dan perasaan. Orang yang berada di bawah pengaruh LSD akan lebih mudah dilihat dari perubahaan perasaan dan suasana hati yang drastis dibanding tanda-tanda fisik. Pengguna mungkin merasakan perubahan emosi yang berbeda sekaligus atau mengalami mood swing yang sangat cepat.

Dilansir National Institute on Drug Abuse, di Amerika, LSD tidak dianggap sebagai obat adiktif tinggi karena tidak menghasilkan perilaku mencari obat secara kompulsif. Namun, LSD menyebabkan tubuh jadi toleran. Artinya, pengguna akan mengambil obat tersebut berulang kali dan mengambil dosis yang lebih tinggi sehingga ujungnya menimbulkan efek berbahaya.(*)

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

Listrik Padam, Sidang Pleidoi Zainudin Hasan Ditunda 2 Jam

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Tanjungkarang kembali menyidangkan perkara korupsi proyek di Dinas Pekerjaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *