Tak Cukup Minta Maaf, LBH Bandar Lampung Kirim Surat ke Presiden Minta Arinal Djunaidi Dijatuhi Sanksi


Alian Setiadi, Direktur Eksekutif LBH Bandar Lampung menandatangani surat-surat yang ditujukan kepada Presiden RI, Mendagri, Gubernur, DPRD Lampung dan Dewan Pers, Kamis, 21/4/2016. | M Davit Saputra/duajurai.com
ALIAN Setiadi, Direktur Eksekutif LBH Bandar Lampung menandatangani surat-surat yang ditujukan kepada Presiden RI, Mendagri, Gubernur, DPRD Lampung dan Dewan Pers, Kamis, 21/4/2016. | M Davit Saputra/duajurai.com

Duajurai.com, Bandar Lampung – Terkait dugaan pelecehan yang dilakukan Sekretaris Daerah Provinsi Arinal Djunaidi terhadap wartawan, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung akan mengirimkan surat kepada Presiden agar Arinal Djunaidi diberikan sanksi atas tindakannya.

Hal itu disampaikan Alian Setiadi, Direktur LBH Bandar Lampung saat konferensi pers yang digelar di kantornya, Jalan Amir Hamzah No 35 Kelurahan Gotong Royong Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung.

“Tiap tahun LBH Bandar Lampung selalu menerima laporan dan pendampingan kasus-kasus tersebut, maka perlu sanksi yang tegas terhadap pejabat publik agar kejadian tersebut tidak terulang kembali. Kami akan melaporkan kasus tersebut kepada presiden, mendagri, gubernur, DPRD Lampung dan dewan pers,” kata Alian Setiadi.

Alian menjelaskan, pihaknya membuat surat yang ditujukan kepada Presiden RI Nomor: 027/SK/LBH-BL/IV/2016 yang ditandatangani bersama LBH Pers Lampung dan AJI Bandar Lampung. Surat berisi permohonan agar Arinal Djunaidi diberi sanksi.

“Ini adalah bentuk sanksi tegas. Ini harus disebarluaskan. Kami mengingatkan ini tidak boleh terjadi lagi,” tambahnya.

Alian menambahkan, LBH Pers selalu menerima pengaduan kekerasan maupun intimidasi wartawan tiap tahunnya namun tidak berujung pada penyelesaian. Selama 2016 ada 3 kasus yang menimpa para pewarta Lampung.

“Pertama menimpa kawan-kawan yang meliput di pengadilan. Kasusnya berjalan hingga proses penyidikan. Kedua ketua pengadilan agama way kanan yang melarang wartawan untuk meliput, dan yang terakhir kasus intimidasi yang dilakukan Arinal Djunaedi terhadap Noval Andriansyah wartawan Tribun Lampung,” rincinya.

Kasus pelecehan yang dilakukan Arinal Djunaidi bergulir tak lama setelah ia dilaporkan salah seorang pegawai Garuda Indonesia, Istahul Umam karena tindakan Arinal yang melakukan penamparan saat bertugas di Bandara Radin Inten II, Branti, natar, Lampung Selatan, Sabtu, 16 April 2016 lalu. Saat dikonfirmasi wartawan soal dugaan penganiyaan tersebut, Arinal marah dan mengeluarkan perkataan yang menyinggung juru warta.

Pada Rabu kemarin, 20/4/2016, sejumlah jurnalis Lampung menggelar aksi. Mereka menuntut Arinal Djunaidi meminta maaf secara terbuka. Bertempat di kantor PWI Lampung, Arinal menemui jurnalis dan meminta maaf di depan jurnalis.

Usai aksi, sejumlah jurnalis merasa belum puas karena Arinal hanya meminta maaf ke sejumlah jurnalis. Selain itu muncul wacana bahwa aksi tersebut telah didesain oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan semata. Terlihat dari prosedur aksi yang tak sesuai rencana. Di mana sebelumnya aksi akan berujung di kantor Pemprov Lampung, namun pada kenyataannya aksi berakhir di kantor PWI Lampung.(*)

Baca juga: Jurnalis Kecewa Demo Sekprov Lampung Tidak ke Pemprov, Ketua AJI Yoso Muliawan Minta Maaf di Facebook

Laporan M. Davit Saputra, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

DIKSAR MAUT CAKRAWALA: Bongkar Makam, Polres Pesawaran Autopsi Jasad Aga Trias

GADINGREJO, duajurai.co – Kepolisian Resor (Polres) Pesawaran membongkar makam Aga Trias Tahta di Dusun Wonokarto, Pekon Wonodadi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *