STATUS BUDI HUTASUHUT: Baliho Lampung Mandiri Energi (Katakan Tidak kepada Byarpett)


BALIHO kemandirian energi listrik beserta foto Gubernur M Ridho Ficardo dan wakilnya Bachtiar Basri yang terpasang di Jalan Kartini Bandar Lampung | Imelda Astari/duajurai.com
BALIHO kemandirian energi listrik beserta foto Gubernur M Ridho Ficardo dan wakilnya Bachtiar Basri yang terpasang di Jalan Kartini Bandar Lampung | Imelda Astari/duajurai.com

KALIMAT “katakan tidak kepada byarpett” Ini bagus jadi pengganti baliho “Mari Dukung Lampung Segera Mandiri Energi”.

Benar kata para ahli komunikasi, media luar ruang itu–juga media umumnya–tak perlu dipercaya. Tak ada realitas di sana. Yang ada hiperrealitas. Sesuatu seperti fantasi. Sesuatu yang terdengar wow. Kenyataannya cuma harapan palsu.

Begitu juga halnya baliho. Misalnya, baliho berisi teks “Mari Dukung Lampung Segera Mandiri Energi Listrik”. Taruhlah ini ajakan positif: Lampung Mandiri Energi Listrik. Saya merindukan zaman itu tiba. Tapi, kenapa harus ada ajakan “Mari Dukung” disampaikan lewat baliho. Siapa yang diajak? Untuk apa diajak?

Soal dukung-mendukung, sudah tentu tidak ada yang tak mendukung. Cuma, dukungan seperti apa yang diharapkan? Apakah dukungan dana, misalnya, rakyat saweran Rp500 per orang untuk membangun pembangkit listrik sendiri yang dipergunakan untuk orang Lampung saja. Boleh, ayo, buatlah rekeningnya. Saya akan kirim. Atau, dukungan lain, misalnya, Gubernur Lampung punya program “menghemat pemakaian listrik”.

Sungguh saya tak paham. Semakin tak paham, karena saya tak mengerti apa maksud “mandiri energi listrik” itu. Apakah kalimat ajakan itu sebuah kesalahan redaksional? Ataukah, sebuah kesengajaan untuk berbaliho ria.

Soal baliho, sebeetulnya, soal yang layak dicurigai. Untuk apa pemerintah daerah–untuk tak mengatakan kepala daerah–memasang baliho yang menampilkan wajah kepala daerah bersangkutan. Kenapa bukan wajah orang lain. Misalnya, wajah orang miskin. Dengan dipakainya wajah mereka, kemiskinan mereka sedikit terbantu. Sebab, ada honor bagi orang yang jadi model baliho.

Tentu saja tidak seperti itu. Baliho itu dibayangkan sebagai media sosialisasi. Maka, yang disosialisasikkan adalah wajah kepala daerah. Malangnya, untuk baliho itu, ada banyak dana rakyat yang dikorting. Misalnya, uang sosialisasi program, akhirnya diberikan kepada mereka yang merancang tampilan baliho.

Malangnya, baliho berisi wajah kepala daerah itu tidak dikenakan pajak. Meskipun, sering, ada yang dikenakan pajak, tapi hitungannya tak menambah pajak iklan di dinas pendapatan daerah. Hal lain lagi, biasanya, baliho kepala daerah hasil kongkalikong dengan pemilik ruang atau investor (space iklan). Mungkin, semacam suap, gratifikasi, atau apalah yang akan membuat kepala daerah menghargai investor space iklan itu.

Kembali ke soal “mandiri energi listrik”, sebaiknya diperjelas dulu apa tujuannya. Kalau bisa, ada baiknya Gubernur Lampung memasang baliho yang isinya: “KATAKAN TIDAK PADA BYARPETT”(*)

  • Budi Hutasuhut | penulis, budayawan, jurnalis | Status Facebook, Rabu 13/4/2016

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Skandal Garuda, Momentum Bersih-Bersih BUMN

DR ANDI DESFIANDI SE MA | Ketua Bidang Ekonomi DPP Bravo Lima SKANDAL Direksi Garuda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *